Search for:
Inilah Sejarah Gempa dan Tsunami yang Terjadi di Palu dan Donggala

Inilah Sejarah Gempa dan Tsunami yang Terjadi di Palu dan Donggala

Bencana alam gempa bumi dan tsunami yang dahsyat yang mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada hari Jumat, 28 September 2018 lalu sekitar pukul 17.02 WIB bukan merupakan yang pertama kali terjadi dalam sejarah kebencanaan di daerah tersebut.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Sabtu, 29 September 2021 mengungkapkan bahwa Palu dan Donggala sudah seringkali mengalami gempa bumi dan tsunami.

Catatan sejarah menulis, pada tanggal 1 Desember 1927 juga gempa bumi dan tsunami pernah terjadi di Teluk Palu. Pada waktu itu, ada 14 korban jiwa tewas dan 52 orang mengalami luka-luka.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 30 januari 1930, kejadi tersbeut terulang kembali di Pantai Barat Donggala. Tsunami pada waktu itu mencapai ketinggian hingga lebih dari 2 meter dengan durasi selama 2 menit, namun sayangnya jumlah korban jiwa tidak diketahui dalam peristiwa tersebut.

Setelah ‘diam’ hampir 58 tahun lamanya, tsunami kembali melanda tepat pada 1 Januari 1996 yang berlokasi di Selat Makassar. Tsunami mencapai ketinggian hingga 3,4 meter dan mencapai daratan sejauh 300 meter. Diketahui 9 orang meninggal dunia dan bangunan yang terdapat di daerah Bangkir, Tonggolobibi, dan Donggala rusak parah.

Setelah itu, 2 tahun berjalan pada tanggal 11 Oktober 1998, gempa kembali mengguncang Donggala. Tercatat, ratusan tempat tinggal roboh akibat gempa bumi tersebut.

Lalu pada tanggal 25 Januari 2005, gempa bumi kembali mengguncang wilayah Palu. Sebanyak 100 rumah warga rusak parah dan 1 orang mkeninggal dunia.

Selanutnya pada tanggal 17 November 2008, gempa kembali mengguncang Donggala dan Laut Sulawesi. Ratusan bangunan rumah tempat tinggal dan juga 4 korban jiwa meninggal dunia akibat perisstiwa itu.

Empat tahun selanjutnya, pada tanggal 10 Agustus 2012, di Kabupaten Sigi dan Parigi Montong diguncang gempa bumi. Terdapat 8 orang meninggal dunia akibat peristiwa bencana alam itu.

Penyebab Gempa Palu

Penyebab Gempa Palu

Menurut Analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) mengungkapkan bahwa gempa besar 7,7 SR kemudian diiperbarui oleh BMKG sebesar 7,4 SR. Dipicu oleh aktivitas-aktivitas sesar Palu-Koro.

Baca Juga ↓↓↓

Waspada Bencana Masa Depan, Cara Antisipasi Jika Terjadi Bencana Besar

“Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, maka peristiwa gempa bumi tersebut disebabkan oleh aktivitassesar aktif pada zona sesar Palu-Koroyang berarah ke Barat Laut-Tenggara,” demikian pernyataan resmi PVMBG.

Sedangkan kawasan daratan sekitar pusat gempa 7,4 SR itu, seperti kabupaten Donggala, disusun oleh oleh batuan berumur pra Tersier, Tersier dan Kuarter. Batuan ini sebagian telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter tersebut, menurut analisis PVMBG, pada umumnya bersifat urai, lepas, lunak, belum kompak (unconsolidated), bersifat memperkuat efek goncangan gempabumi. Sementara pakar geologi dari UGM Wahyu Wilopo mengatakan gempa yang mengguncang Palu dan Donggala hari ini kemungkinan besar memang dipicu aktivitas sesar Palu-Koro. Patahan ini, kata dia, memiliki karakter pergerakan cenderung bergeser atau bukan sesar naik seperti yang memicu gempa Lombok. “Ini sama dengan sesar semangko yang membelah Pulau Sumatera,” kata Wahyu pada Jumat malam.

Waspada Bencana Masa Depan, Cara Antisipasi Jika Terjadi Bencana Besar

Waspada Bencana Masa Depan – Dalam menghadapi bencana dimasa depan yang kita tahu akibat perubahan iklim yang tidak menentu, langkah ini akan menjadi salah satu penyelamat nyawa anda untuk antisipasi bencana di masa depan yang kita tidak tahu kapan akan terjadi kapan.

Baca Lain ↓↓↓

LAPAN BRIN: Indonesia Alami Hari Tanpa Bayangan Selama 1 Bulan Lebih

Waspada Bencana Masa Depan

Waspada Bencana Masa Depan

Bencana alam yang berupa badai mungkin kita sudah sering mendengar, di Indonesia sendiri bada di sebut angin topan, Dalam perubahan Iklim yang ekstrim ini badai dahsiat sudah memasukin sebagian belahan dunia seperti Amerika, China, Ekuador, Haiti, dan sudah memasukin wilayah di Indoensia.

Badai besar yang menghanta kota-kota sampai hancur biasa kekuatan angin menembus 260 Kilometer/jam, Badai Ida pun sudah tercatat jenis badai terkuat ke-5 di Dunia yang pernah penghantam Negara Amerika serikat tempo hari lalu.

Terus bagaimana untuk mengantisipasikan jika badai itu terjadi di Kota kalian yang kalian tingali sekarang. Nah ini lah cara untuk berlidung agar aman dari bencana tersebut. Simak penjelasannya di bawah ini ya!

cara berlindung agar dari bencana

1. Jika kalian sedang berada di rumah atau ruangan seperti ruku
Pastikan kalian mengunci semua pintu dan jendela kaca
matikan semua listrik yang berada di dalam rumah
simpat prabotan yang gampang pecah kedalam lemarin yang bisa tertutup rapat
Cari tempat perlindungan yang aman, seperti dibawah meja tengah suangan, jangan mendekati pintu atau jendela kaca.

2. Dalam Perjalanan
Carilah tempat berlidung seperti rumah atau gedung yang gogoh terhadap badai.
atau cari tempat lapangan yang jauh dari bangunan situs judi slot yang gampang mudah roboh,
berlidung lah ditepian dan berdoa.

3. Di tempat terbuka
Carilah tempat terbuka seperti lapangan atau lainnya yang jauh dari bagunan tinggi atau tiang listrik
menjauh dari tiang-tiang yang rentan terkena angin seperti papan reklame tiang listrik dll
berlutut dan lindungin kepala dengan tangan akan tetapi jangan tiduran ya

Nah itu dia beberapa cara aman untuk mengantisipasi bencana badai yang kuat nantinya, semoga bermanfaat ya
Hindari dari perlindungan jembatan, dikarenakan jembatan yang tidaj bisa menahan angin yang sangat kencang.

LAPAN BRIN: Indonesia Alami Hari Tanpa Bayangan Selama 1 Bulan Lebih

LAPAN BRIN: Indonesia Alami Hari Tanpa Bayangan Selama 1 Bulan Lebih

Lapan: “Indonesia alami hari tanpa bayangan pada 6 September sampai dengan 21 Oktober 2021.” Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan hari tanpa bayangan Matahari saat tengah tengah hari. Dimulai 6 September hingga 21 Oktober 2021. Informasi resmi diumumkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Badan Riset Riset dan Inovasi Nasional (LAPAN BRIN) pada periode Agustus lalu.

Menurut keterangannya, Peneliti Pusat Sains dan Antariksa Lapan Andi Pangerang menjelaskan bahwa, hari tanpa bayangan terjadi ketika posisi Matahari tepat berada di atas Indonesia pada tengah hari.

“Ketika posisi Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tak berongga saat tengah hari. Fenomena ini dapat disebut sebagai hari tanpa bayangan Matahari,” jelas Andi.

Untuk wilayah Jakarta sendiri, hari tanpa bayangan Matahari bisa diamati pada tanggal 9 Oktober 2021 tapat pada pukul 11.39 WIB.

Menurut Andi, wilayah Indonesia yang terbentang dari 6 derajat Lintang Utara (LU) sampai 11 derajat Lintang Selatan (LS) dan dibelah oleh garis khatulistiwa yang membuat Matahari akan berada tepat di atas Indonesia sebanyak dua kali setahun.

Untuk yang pertama sudah terjadi sejak akhir Februari sampai awal April 2021. Sedangkan untuk yang kedua akan terjadi antara 6 September sampai dengan 21 Oktober 2021.

Indonesia Mengalami Dua Kali Hari Tanpa Bayang Dalam Setahun

Indonesia Mengalami Dua Kali Hari Tanpa Bayangan Dalam Setahun

Andi juga menjelaskan, fenomena hari tanpa bayangan Matahari pasti terjadi dua kali dalam setahun untuk kota-kota atau wilayah yang terletak di antara dua garis.

Baca Juga↓↓↓

Ini 3 Bencana Alam Paling Banyak Memakan Korban dalam Sejarah Dunia

Keduanya adalah Garis Balik Utara (Tropic of Cancer 23,4 derajat Lintang Utara) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn 23,4 derajat Lintang Selatan.

Kemudian Andi juga menjelaskan bahwa, kota-kota yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan hanya akan mengalami hari tanpa bayangan Matahari sekali dalam setahun. Waktunya adalah ketika Solstis Juni dan Garis Balik Utara maupun Solstis Desember untuk Garis Balik Selatan.

Kemudian, selain ketiga wilayah tersebut, Matahari tidak akan berada di zenit saat tengah hari di sepanjang tahun. Posisi Matahari agak sedikit condong ke selatan untuk belahan bumi utara dan juga agak condong ke utara untuk belahan bumi selatan. Cara untuk mengamati hari tanpa bayangan sebenarnya sangatlah mudah.

Cara yang paling sederhana ialah dengan menggunakan alat-alat yang bisa berdiri tegak seperti tongkat, spidol ataupun benda lain yang bisa berdirikan. Setelah berdiri, letakkan benda di permukaan yang rata dan amati sesuai jam yang telah ditentukan untuk melihat apakah bayangan yang dihasilkan benar-benar tidak terlihat.

Ini 3 Bencana Alam Paling Banyak Memakan Korban dalam Sejarah Dunia

Dalam sejarah dunia mencatatkan bahwa, ada berbagai macam peristiwa atau fenomena alam yang sudah poernah terjadi di bumi kita tercinta ini. Mulai dari peristiwa yang sangat aneh, peristiwa bencana alam, wabah pandemik hingga menjadi endemik, sampai ledakan yang sangat misterius yang terjadi di Siberia yang mampu mengubah keadaa iklim.

Dikutip dari berbagai sumber terbik dalam sejarah dunia, Ini 3 Bencana Alam Paling Banyak Memakan Korban dalam Sejarah Dunia. Simak penjelasannya!

Selama Satu Tahun Penuh Tidak Ada Musim Panas

Pada tahun 1815 silam, Gunung Tambora yang terletak di Nusa Tenggara Barat, Indonesia meletus, yang letusannya menjadi letusan gunung berapi terkuat dan terdashyat di dunia dalam catatan sejarah.

Ledakan itu mengakibatkan tewasnya puluhan hingga ratusan ribu manusia di kawasan Asia Tenggara dan membuat awan abu raksasa di atas awan bagian stratosfer.

Pada saat awan menyebar ke seluruh dunia, cahaya matahari menjadi terhalang, sehingga mendinginkan suhu sekitar 3 derajat dan menyebabkan distorsi cuaca dalam skala yang sangat besar hingga pada tahun berikutnya.

Ledakan yang sangat dahsyat yang disebabkan oleh letusan Gunung Tambora tersebut memberikan efek yang mengubah sebuah ekologi di Teluk Benggala, India, dan memunculkan jenis kolera baru yang membuat tewas hingga jutaan orang di sekitar ledakan tersebut.

Daerah benua Eropa mengalami hujan yang begitu lebat dan cuaca dingin yang terus-menerus sehingga menyebabkan bencana kelaparan yang menyebar luas hingga mendorong para warga sipil untuk membuat kerusuhan.

Selain di Eropa, yang mengalami dampaknya juga terjadi di daerah Amerika Serikat. Hujan salju lebat turun di beberapa negara bagian di benua tersebut, membunuh tanaman dan membuat kemerosotan ekonomi pada negara terdampak.

Gangguan cuaca memiliki beberapa efek samping yang tidak biasa, seperti di Swiss, cuaca mendung dan hujan terus-menerus pada 1816, memaksa penulis Mary Shelley melewatkan musim panas di dalam ruangan. Dia menghibur dirinya sendiri dengan menulis novel horor terkenal “Frankenstein”.

Baca Lain ↓↓↓

Akibat Cuaca Ekstrem, Ratusan Burung Pipit mati di Cirebon

Peristiwa CARRINGTON 1859

Pada akhir bulan Agustus dan awal bulan September 1859, suar matahi terjadi. Tercatat pada waktu itu, Planet Bumi diserang badai matahari terbesar sepanjang sejarah yang pernah ada.

Suar matahari terjadi karena akibat energi magnet yang terpendam di dalam permukaan matahari dilepaskan dalam ledakan radiasi serta partikel-partikel yang bermuatan.

Ledakan yang dihasilkan setara dengan kekuatan jutaan bom hidrogen dan angin matahari yang mereka ciptakan memiliki kemampuan untuk merusak lapisan atmosfer bumi.

Kemudian, disebut “Peristiwa Carrington“, karena untuk astronom Inggris, Richard Carrington, membuat langit bersinar dengan aurora multi-warna yang berkilauan sampai ke selatan sampai Hawaii.

Tahun Belalang 1874 

Tahun Belalang 1874

Wabah Belalang yang merusak segala jenis tanaman yang ada merupakan kejadian umum yang terjadi di perbatasan Amerika pada akhir abad ke-19. Namun, yang paling terburuk terjadi di great Plains pada musim panas 1874.

Musim semi yang kering dan gersang telah menciptakan kondisi yang sangat sempurna untuk para belalang di Pegunungan Rocky berkembang biak dengan bertelur dalam jumlah yang sangat banyak.

Jumlah triliunan ekor dari mereka kemudian menetas dan mengepung daerah Nebraska, Kansas, Dakotas, Lowa, damn juga beberapa negara bagian lainnya.

Ada beberapa saksi mata yang menyebutkan bahwa belalang-belalang tersebut terbang dan membentuk seperti awan besar yang sangat tebal sehingga menutupi dan menghalangi cahaya matahari selama beberapa jam lamanya.

Ketika mendarat, para belalang itu melahap seluruh jenis tanaman yang tumbuh, tumbuh-tumbuhan lokal, dan juga pakaian di punggung orang.

“Seluruh udara dipenuhi oleh belalang-belalang tersebut, mereka menyerang rumah-rumah, mengerumuni jendela, menutupi kereta, mobil, dan kendaraan lainnya yang melintas. Seolah-olah mereka datang dikirim untuk menghancurkan,” tulis media tersebar di Amerika Serikat.

Banyak orang yang mencoba melawannya dengan membakarnya menggunakan senapan angin, api, dan juga meledakkan bubuk mesiu. Tetapi manusia tak berdaya karena kalah banyak dengan serangga tersebut.

Banyak tanaman yang bernilai jutaan dolar akhirnya mati dan hancur begitu saja, maka dari itu tahun itu disebut juga dengan “Tahun Belalang”.

Angkatan Darat AS dipanggil dan dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan kepada para korban, banyak dari tempat wisma yang mengaku keteteran, kalah, bahkan sampai mundur ke bagian timur.

Malapetaka yangterjadi itu terus memburu para pemukim sampai dengan beberapa tahun berikutnya. Hingga pada akhirnya belalang-belalang tersebut yang berasal dari Pegunungan Rocky musnah juga karena perubahan iklim lingkungan.

Akibat Cuaca Ekstrem, Ratusan Burung Pipit mati di Cirebon

Ratusan Burung Pipit mati – Kepala Sumber Daya Alam, Jawa Barat Ammu Nurwati mengatakan, fenomena aneh yang terjadi di Cirebon terjadi, Ratusan Burung pipit mati secara tiba-tiba akibat cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia.

Ratusan Burung Pipit mati

Perubahan cuaca yang terjadi saat ini terjadi menang cukup ekstrim, dari cuaca kemarau ke musim hujan.
Disekitar kota Cirebon sudah mulai memasuki musim hujan yang cukup besar terjadi dalam tiga hari lalu, hujan yang turun dari pagi sampai sore hari ini di Cirebon.

Dugaan ini dikatakan oleh ahli burung yang menjelakan burung pipit yang lebih suka cuaca yang hangat ketimbang cuaca dinggi.

Namun, untuk mengetahui hasil yang lebih akurat, sampel satwa yang mati dibawa ke Balai Veteriner Subang untuk diperiksa di Labaratorium.

“saya berharap hasilnya segera keluar dan bisa mengetahui dari hasil tes tersebut penyebab kenapa burung pipit itu mati.” terangnya.

Petuga kebersihan juga menemukan 520 ekor burung pipit tergeletak pingsan dan mati di bawah pohon mangga dan sawo di depan balai kota Cirebon.

Kemudia petuga kebersihan tersebut melaporkan kejadian aneh tersebut kepada balai kota di Cirebon. Walikota yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri merasa aneh dengan kejadian tersebut, ia langsung memanggil dinas pangan, pertanian, kelautan dan perikanan kota Cirebon untuk di teliti lebih lanjut lagi.

Kemudia selang beberapa jam Balai besar KSDA, jabar bersama dokter hewan dari dinas pangan kota menuju lokasi kejadian dimana burung tersebut mati dan pingsan.

Dokter memeriksa dan melihat suhu di sekita pohon tersebut untuk di teliti dan dokter juga membawa burung yang sudah mati untuk di periksa dengan teliti di laboratorium di kota Cirebon nantinya.

Ia mengatakan hal ini tidak mungkin langsung cepat keluar tapi akan saya percepat pemeriksaanya, dugaan pertama saya hanya bisa mengatakan dari cuaca perubahan ekstrem yang terjadi di dunia ini. Burung pipit aslinya tidak kuat terhadap uadara digin, ia lebih suka cuaca yang hangat seperti musi kemarau, Jelas dokter.

Kronologi Ratusan Ekor Burung Pipit Ditemukan Mati

Kronologi Ratusan Ekor Burung Pipit Ditemukan MatiKronologi Ratusan Ekor Burung Pipit Ditemukan Mati

Ammy menceritakan, pada Selasa pagi, petugas kebersihan Kantor Balai Kota Cirebon menemukan 500 burung pipit mati dan pingsan di bawah pohon mangga dan sawo kecik di depan Balai Kota Cirebon.

Baca Lain: Harus Tahu! Sejarah Bencana Alam di Indonesia dan Jenisnya

Kemudian kejadian tersebut dilaporkan kepada Kepala Rumah Tangga Kantor Balai Kota Cirebon. Wali Kota Cirebon kemudian memanggil Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Cirebon untuk memeriksa kejadian tersebut. “Petugas langsung ditugaskan untuk meninjau di lapangan dan berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas lingkungan Hidup setempat dan Balai Veteriner (B-Vet) Subang,” ucap Ammy. Kemudian pukul 15.30 WIB, Balai Besar KSDA Jabar melalui Resor Cirebon bersama dokter hewan dari Dinas Pangan Kota, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota dan Petugas Balai Veteriner Subang meninjau ke lokasi kejadian.

Harus Tahu! Sejarah Bencana Alam di Indonesia dan Jenisnya

Harus Tahu! Sejarah Bencana Alam di Indonesia dan Jenisnya

Kedeputian Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Sistem Penanggulangan Bencana belum lama ini berkunjungke daerah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Tepatnya di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Diketahui, BPCB Jawa Timur memiliki tugas melaksanakan perlindungan, pemeliharaan, dokumentasi, pemugaran, penyelidikan, penetapan, pengamanan, dan memberikan bimbingan serta penyuluhan kepada masyarakat yang berkaitan dengan peninggalan purbakala dan sejarah di masa lampau.

Kunjungan kerja tersebut kemudian dilanjut ke Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) dan juga yang terdapat di Trowulanuntuk menggali informasi tentang literasi sejarah kebencanaan pada masa lalu atau masa lampau khususnya yang berada di Jawa Timur.

Dr. Ir. Amien Widodo, M.si, Dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkapkan bahwa situasi Indonesia yang diapit oleh tiga buah lempeng tektonik aktif sehingga membuat Indonesia rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami dan juga letusan gunung berapi.

Kemudian Amien mengungkapkan bahwa berdasarkan penemuan-penemuan yang terjadi sebelumnya, peradaban di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kejadian bencana alam.

“Contohnya, manusia purba di Sangiran, Sragen ditemukan di bawah endapan letusan gunung berapi pada 1.5 juta tahun yang lalu, sedangkan pada 74 ribu tahun yang lalu, letusan Gunung Toba memakan banyak korban di Indonesia dan dampaknya dapat dirasakan di seluruh dunia,” ujar Amien.

“Letusan Gunung Tambora juga berdampak pada dunia yang tanpa adanya musim panas, letusan Gunung Samalas pada tahun 1257 juga meninggalkan endapan abu vulkaniknya setebal 35 meter. Selain itu, banyak juga candi-candi yang terkubur akibat letusan gunung berapi seperti di Yogyakarta,” sambungnya.

Amien juga menerangkan bahwa Provinsi Jawa Timur mempunyai cerita yang tak kalah menarik, salah satunya adalah tentang bencana Erupsi Gunung Kelud.

“Erupsi Gunung Kelud terjadi berulang kali dan membentuk pola perulangan, yaitu danau, anak gunung, lalu erupsi yang akhirnya membentuk danau kembali. Hal ini juga tercatat dalam Kitab Pararaton,” tuturnya.

Lalu Amien juga menceritakan bahwa Raja Airlangga pada era Kerajaan Kahuripan juga sudah membangun bendungan serupa sebagai upaya pencegahan dan mitigasi bencana banjir.

“Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat dahulu pun sudah melakukan upaya preventif untuk menanggulangi bencana. Peristiwa ini tertuang dalam Prasasti Kamalagyan yang terletak di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan krian Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur,” jelas Amien.

“Berdasarkan temuan-temuan yang ada, saya percaya bahwa Kerajaan Majapahit runtuh karena terdampak bencana, selain juga ada faktor lainnya seperti perang saudara. Hal ini dapat dilihat dari lapisan-lapisan vulkanik serta endapan banjir yang mengubur situs-situs yang ada. Selain itu, beberapa situs juga mengalami roboh akibat goncangan gempa bumi,” sambungnya.

Jenis Bencana Alam di Indonesia

Jenis Bencana Alam di Indonesia

Baca Artikel Terkait⇓⇓⇓

Catat! 8 Nama Fenomena Alam Dalam Bahasa Jawa

Ada beberapa fenomena alam atau bencana alam yang sering terjadi sepanjang sejarah di Indonesia, di antaranya;

1. Gunung meletus
2. Gempa bumi
3. Tsunami
4. Banjir bandang
5. Tanah longsor
6. Kebakaran hutan dan lahan
7. Angin topan

Catat! 8 Nama Fenomena Alam Dalam Bahasa Jawa

Catat! 8 Nama Fenomena Alam Dalam Bahasa Jawa

Sejatinya, alam merupakan tempat tinggal para makhluk hidup yang ada di bumi ini. Selain menampilkan keindahan yang sangat mengagumkan, ternyata alam juga menyimpan potensi bencana yang dapat menyebabkan kerusakan bahkan hingga kematian bagi yang terdampak.

Ada banyak sekali jenis fenomena yang sudah dilalui oleh manusia karena dilihat dari sejarah peradaban manusia pada zaman purba hingga yang terjadi pada saat ini.

Baca Artikel Lain: Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

Contoh peristiwa atau fenomena alam antara lain, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.

Nah, berikut di bawah ini delapan nama fenomena alam dalam bahasa Jawa yang bisa kamu ketahui. Simak artikel ini!

1. Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah Gempa Bumi, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘Lindu

2. Bencana alam yang terjadi dikarenakan air sungai yang meluap dan juga saluran air besar tersumbat dalam bahasa Jawa disebut ‘banjir bandhang‘.

3. Nah untuk bencana alam tanah longsor dalam bahasa Jawa, kita bisa hanya menyebutkan dengan ‘longsor

4. Fenomena atau peristiwa alam lain yang terjadi dikarenakan tidak adanya hujan yang turun selama berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan, yang dalam bahasa Jawa dinamakan ‘mongso ketigo

5. Bencana alam yang satu ini bisa diakibatkan oleh faktor alami atau bisa juga karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, yaitu kebakaran hutan yang dalam bahasa Jawa disebut ‘kobongan

6. Siapa yang tidak tahu dengan peristiwa alam yang satu ini? Ya, Gunung Meletus. Di Indonesia banyak sekali gunung berapi yang masih aktif sehingga sewaktu-waktu gunung-gunung s=tersebut dalam memuntahkan isinya, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘gunung njeblug

7. Gejala atau peristiwa alam ini hampir sering kita jumpai di kala sebelum hujan lebat turun, yaitu Petir yang dalam bahasa Jawa disebut dengan ‘bledek‘ atau bisa juga dengan sebutan ‘gludhug

8. Sedangkan kalau hujan sendiri dalam bahasa Jawa dinamakan dengan ‘udan‘ (ngoko) atau ‘jawah‘ (krama)

Nah itulah delapan nama fenomena alam yang dalam bahasa Jawa. Apakah kalian sudah sering mendengarnya? Atau masih asing di telinga kalian?

Fenomena atau Bencana Alam Besar Ini yang Ada di Indonesia Malah Buat Dunia Jadi Indah?

Fenomena atau Bencana Alam Besar Ini yang Ada di Indonesia Malah Buat Dunia Jadi Indah?

Siapa yang sudah pernah berkunjung ke daerah Ujung Kulon, Krakatau? Sejauh mata memandang, spesies Badak Jawa merupakan salah satu di antara hewan lainnya yang paling langka di muka bumi ini. Saat ini diketahui hany tersisa sekitar 60 ekor saja.

Maka dari itu, mereka adalah spesies yang dilindungi dan hanya bisa kalian temukan di Taman Nasional Ujung Kulon.

Selain itu, ada juga 57 jenis tanaman langka yang dapat tumbuh di Taman Nasional yang ada di Indonesia ini.

Sebagai salah satu warisan dunia, taman ini menyajikan berbagai tempat yang sangat indah dan juga pantai yang berpasir yang cocok untuk olahraga snorkeling.

Di sisi lain, ada juga gunung-gunung tropis dan juga berbagai macam pulau yang juga akan menarik daya perhatianmu.

Fitur yang menjadi daya tarik utama pada Ujung Kulon ini ialah Gunung Berapi Krakatau yang saat ini sedang tertidur. Menurut catatan sejarah, Karakatau pernah meletus dengan daya ledakannya yang sangat dahsyat pada tahun 1883 silam.

Akibat peristiwa tersebut, mengakibatkan sebanyak kurang lebih 37 ribu korban jiwa tewas dan suara yang timbul akibat dari ledakan tersebut bisa didengar hingga 4.800 km jauhnya dari Gunung Krakatau. Ini merupakan suara terkeras yang pernah terdengar dan terekam di planet Bumi ini.

Abu yang dihasilkan dari peristiwa besar tersebut terbentuk bahkan hingga menghalangi cahaya matahari selama beberapa pekan di area terdampak tersebut. Banyak hilangnya nyawa dan kerusakan yang dialami oleh pulau-pulau di sekitarnya disebabkan karena bencana alam tersebut.

Selain itu juga, hutan hujan tropis yang hijau nan subur dan ekosistem yang terbentuk secara alami juga merupakan akibat dari padanya.

Taman Nasional yang kita kenal saat ini yang terdapat di dasar gunung berapi tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa kemungkinan yang bisa dialami planet ini akibat fenomena alam besar tersebut.

Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

Banjir yang melanda lima desa di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung merusak dua rumah warga. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (31/8), pukul 03.15 WIB ini tidak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. BPBD setempat melaporkan hujan deras memicu kejadian tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus melaporkan hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air sungai meluap. Hujan terjadi sejak Senin (30/8) sore hari. Tak hanya itu, peristiwa dini hari itu juga menjebolkan tanggul Sungai Way Sedayu sehingga dampak terparah dialami di Desa Sukaraja. Pantauan BPBD menyebutkan limpasan luapan air sungai merendam kawasan sekitar.

Lima desa terdampak banjir ini antara lain Desa Sukaraja, Sedayu, Bangun Rejo, Pardawaras dan Way Kerap. Data yang diterima Pusdalops BNPB menyebutkan rumah warga rusak berat sebanyak dua unit dan beberapa hektar lahan pertanian terendam banjir. BPBD masih melakukan pendataan kerugian banjir tersebut.

Selain banjir, hujan dengan durasi lama tersebut memicu terjadinya longsor yang terpantau di sepanjang jalan lintas barat, seperti di beberapa titik Pekon Sedayu dan Sukaraja. Data Polsek Semaka mencatat material longsor menutup dua titik di Jalan Pekon Way Kerap. Tiga titik longsoran juga terjadi di jalan arah Simpang Sedayu. Meskipun demikian, jalur lalu lintas tetap dapat dilalui kendaraan dengan pendekatan buka-tutup.

Merespons upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Tanggamus telah berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti pemerintah kecamatan dan desa serta masyarakat setempat guna melakukan pendataan.

Kabupaten Tanggamus merupakan wilayah dengan potensi bahaya banjir pada kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 14 kecamatan berada pada potensi tersebut, termasuk Kecamatan Semaka. Kecamatan ini juga berada pada potensi bahaya tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 21 kecamatan di Kabupaten Tanggamus yang memiliki potensi bahaya tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi.

Baca Juga⇓⇓⇓

Penampakan Aneh Ribuan Larva membentuk Seperti Ular Raksaa di Jalan Raya Polandia

Prakiraan awal musim hujan pada tahun ini, wilayah Lampung terpantau memasukinya pada bulan September hingga November 2021. Sedangkan puncak musim hujan, wilayah ini diprakirakan terjadi pada Januari tahun depan. Menghadapi musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Selain Banjir, Juga Menyebabkan Longsor Di Sejumlah Titik

Selain Banjir, Juga Menyebabkan Longsor Di Sejumlah Titik

Selain mengakibatkan banjir, hujan dengan intensitas tinggi dan berdurasi lama itu juga menimbulkan longsor yang terjadi di sejumlah titik seperti Sukaraja dan Pekon Sedayu di jalan lintas barat.

Selain itu, sebanyak dua titik di Jalan Pekon Way Kerap juga tertutup material longsor dan tiga titik longsor di jalan arah Simpang Sedayu.

“Meskipun demikian, jalur lalu lintas tetap dapat dilalui kendaraan dengan pendekatan buka-tutup,” jelas Muhari.

Lebih lanjut, Muhari menjelaskan bahwa Kabupaten Tenggamus merupakan daerah dengan potensi banjir sedang hingga tinggi. Sebanyak 14 kecamatan di Tenggamus masuk dalam kategori ini.

Salah satu kecamatan tersebut adalah Semaka. Selain rawan banjir, kecamatan ini juga memiliki potensi tanah longsong dengan tingkat sedang hingga tinggi.

Muhari mengatakan, Provinsi Lampung memasuki musim awal hujan pada September hingga November. Sementara, puncak musim penghujan diperkirakan terjadi pada Januari tahun mendatang.

Menghadapi situasi ini, BNPB mengingatkan agar pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi di tengah pandemi Covid-19,” ujar Muhari.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Peristiwa tsunami Aceh yang sangat dahsyat pada tahun 2004 silam telah meluluhlantahkan hampir seluruh wilayah di Aceh. Banyak dari sebagian pihak yang mengaitkan peristiwa itu akibat dari adanya rekayasa senjata thermonuklir yang berasal dari negara adikuasa dengan tujuan tertentu.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir

Menurut Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan bahwa dirinya membantah jika tsunami Aceh ada kaitannya dengan senjata thermonuklir. Dia juga menegaskan bahwa tsunami raksasa tersebut menelan banyak korban jiwa itu dipicu oleh gempa tektonik.

6 Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

6  Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

1. Adanya Fase Gelombang Badan

Daryono menyebutkan bahwa data rekaman getaran tanah seismogram yang menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure) yang tercatat di data tiba lebih awal jika dibandingkan dengan gelombang S (Shear) yang datang pada berikutnya, yang selanjutnya diikuti oleh gelombang permukaan (surface).

“Munculnya fase-fase gelombang badan ini menjadi bukti yang kuat bahwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh diakibatkan oleh adanya aktivitas tektonik, bukan karena ledakan nuklir,” ujar Daryono.

2. Patahan Batuan

Daryono juga mengatakan deformasi yang terjadi di Smaudera Hindia yang terletak di sebelah barat Aceh sebelum terjadinya tsunami. Hal itu tampak dari munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram. Hal itu menunjukkan adanya proses pergeseran (shearing) yangterjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi akibat terjadinya patahan batuan di dalam proses gempa tektonik, bukan karena akibat dari ledakan nuklir.

3. Gempa Tektonik

Deformasi dasar laut di Samudera Hindia sebelah barat Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik. Hal itu dibuktikan dengan adanya variasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG.

Jika memang sumbernya berasal dari ledakan nuklir, maka semua catatan seismogram di berbagai stasiun seismik harusnya diawali dengan gerakan naik (kompresi) pada gelombang P (Pressure) tersebut.

4. Berproses Sejak Tahun 2002

Gempa tektonik yang memicu terjadinya tsunami Aceh tidak terjadi secara tiba-tiba., melainkan melalui proses terjadinya gempa pembuka (foreshocks) yang sudah muncul sejak Gempa Simeulue berkekuatan magnitudo 7,0 yang terjadi tepat pada tanggal 2 November 2002.

Sejak itu, terjadilah serangkaian gempa-gempa kecil yang terus-menerus terjadi. Ini merupakan gempa pendahuluan hingga pada puncaknya terjadi gempa berkekuatan magnitudo 9,2 pada tanggal 26 Desember 2004 tepatnya pada pukul 08.58.53 WIB.

Peristiwa gempa pendahuluan yang sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya merupakan bukti kuat bahwa gempa di Aceh yang terjadi pada tahun 2004 bukan terjadi karena ledakan nuklir. Akan tetapi gempa tektonik dengan tipe gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (mainshock), dan akhirnya terjadinya gempa susulan (aftershock).

Baca Lain↓↓↓

Mengetahui Sejarah Gunung Krakatau Meletus di Tahun 1883

5. Membentuk Jalur Rekahan

Daryono juga menyebutkan bahwa gempa Aceh di tahun 2004, membentuk jalur rekahan (rupture) di sepanjang zona subduksi (line source), yang terbentang dari sebelah barat Aceh di selatan hingga Kepulauan Andaman-Nicobar di utaradengan panjang sekitar 1.500 Km.

Kondisi itulah yang menjadikan bukti bahwa rekahan gempa tektonik terjadi di segmen megatrust Aceh-Andaman. Rekahan panjang tersebut yang terbentuk di sepanjang jalur subduksi lempeng itu merupakan bukti dari deformasi dasar laut yang terjadi dan bukan disebabkan oleh ledakan nuklir.

“Jika memang terjadi karena ledakan nuklir maka deformasi yang akan terbentuk secara terpusat di satu titik (point source) dan bukan bukan berupa jalur (line source),” jelasnya.

6. Gempa Susulan Terjadi Sangat Banyak

Daryono kembali menegaskan bukti bahwa guncangan dahsyat yang dihasilkan di Aceh tahun 2004 dipicu karena gempa tektonik merupakan munculnya serangkaian gempa susulanyang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca gempa utama terjadi.